Ridha-Nya Tersembunyi dalam Ketaatan, Murka-Nya Tersembunyi dalam Maksiat, Wali-Wali-Nya Tersembunyi di Tengah Makhluk
Ada pepatah halus yang sering mampir di majelis kita: Allah menyembunyikan tiga hal—ridha-Nya dalam ketaatan, murka-Nya dalam maksiat, dan para wali-Nya di antara makhluk-Nya. Saya suka membayangkannya seperti kabut pagi di kampung: tidak menghalangi mata, tapi cukup menenangkan langkah agar kita tidak berlari sembarangan. Buat Jamaah Tashin Al-Qur’an KKSS yang terbiasa menajamkan makhraj huruf satu per satu, hikmah ini terasa akrab: yang tampak kecil justru bisa menjadi pintu besar.
Coba ingat suasana selepas Subuh: halaman masjid masih basah, suara anak-anak ayam di kejauhan, dan kita mengeja kembali huruf-ha yang kadang nakal lolos dari tenggorokan. Di titik itulah saya sering berpikir—barangkali ridha Allah sedang bersemayam pada satu rakaat sunnah yang tidak kita pamerkan, pada satu huruf Al-Qur’an yang kita rapikan, pada satu senyum yang kita sisipkan saat menyimak bacaan teman. “Sesungguhnya Allah tidak menilai rupa dan harta kalian, tetapi menilai hati dan amal kalian,” sabda Nabi (HR. Muslim). Yang dilihat bukan kemasan, melainkan kesabaran yang tidak pernah memotret dirinya sendiri. Dan Rasul juga mengingatkan, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meski sedikit” (Muttafaq ‘alaih). Ternyata yang “sedikit” itu seperti air sumur—tak menggelegar, tapi menyambung hidup.
Sebaliknya, ada bara kecil yang tidak kalah berbahaya: maksiat yang kita anggap sepele. Satu seloroh sinis yang mengoyak hati teman sehalaqah. Satu gulir layar yang menunda taubat sampai malam menjadi beku. Dosa-dosa kecil itu, kata Nabi, menitikkan noda di hati; bila kita kembali dan bertaubat, hati pun mengilap, namun bila dilanjutkan, titik itu menghitam (HR. Tirmidzi, hasan sahih). Al-Qur’an bahkan menegur dari pagar terluar: “Janganlah kamu mendekati zina…” (QS. Al-Isra’ 17:32). Larangannya bukan hanya perbuatan, tapi langkah-langkah menuju ke sana. Saya sering membayangkan tumpukan ranting kering—satu-satu tak terasa, sampai tiba-tiba cukup untuk menyalakan api. Maka jika bara mulai terasa di dada, padamkan dengan istighfar, sedekah kecil, atau salam yang tulus. Nabi memberi pedoman sederhana: “Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya ia menghapusnya” (HR. Tirmidzi).
Lalu tentang para wali—kekasih Allah yang sering terlindung di balik keseharian. Al-Qur’an menegaskan, “Ingatlah, wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih—(yaitu) orang-orang yang beriman dan bertakwa” (QS. Yunus 10:62–63). Boleh jadi wali itu bukan yang paling lantang berbicara, melainkan yang paling sabar merapikan baris saf, yang paling lembut menegur bacaan salah tanpa mempermalukan. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman: “Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku menyatakan perang kepadanya… Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan nawafil hingga Aku mencintainya” (HR. Bukhari). Di mata manusia, mereka tampak “biasa”; di sisi Allah, mereka jadi mata yang dijaga dari memandang sia-sia, tangan yang enggan menyakiti, lisan yang enggan menyombong.
Ketiga rahasia ini terasa seperti tiga penunjuk arah untuk jamaah yang sedang belajar memurnikan bacaan. Pertama, jangan remehkan ketaatan kecil. Dua rakaat sebelum Subuh yang Nabi sebut “lebih baik dari dunia dan seisinya” (HR. Muslim) itu mirip tanda baca: kecil, tetapi mengubah makna. Kedua, jangan anggap enteng celah dosa. Batas “kecil” itu sering hanya kamuflase dari pintu besar; begitu engselnya bergerak, susah menutup kembali. Ketiga, jangan gampang menilai orang. Mungkin wali itu adalah ibu-ibu yang konsisten datang paling awal dan pulang paling akhir, yang suaranya lirih ketika berdoa, yang tidak kita kenal namanya—tetapi dikenal penduduk langit. Sikap hormat pada siapa pun adalah semacam sujud batin: mengakui bahwa Allah memilih kekasih-Nya tanpa perlu izin dari popularitas.
Di sela-sela kesederhanaan ini, harapan justru tumbuh lebih tegak. Kita tidak dituntut menjadi spektakuler; kita diajak menjadi konsisten. Kita tidak diwajibkan menang dalam segala hal; kita cukup menolak kalah pada diri sendiri hari ini. “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka” (QS. Ath-Thalaq 65:2–3). Takwa itu—seperti tashin—adalah kerja halus: menggeser makhraj sejengkal, menggeser diri sejauh yang Allah ridhai.
Pada akhirnya, saya membayangkan sebuah hari yang biasa: kita membaca beberapa ayat dengan tajwid yang kita rawat, menahan satu komentar sarkastik yang sudah di ujung lidah, dan menyapa penjaga masjid yang mungkin hari ini sedang letih. Barangkali di situlah Allah menyimpan ridha, memadamkan murka, dan mengenalkan kita—meski sebentar—pada aroma kewalian. Hidup bukan panggung keajaiban besar yang tiap detik menyalakan kembang api. Hidup adalah repetisi yang dirapikan, niat yang terus disetrika, langkah yang dipelankan ketika hati mulai tergesa. Dan ketika kabut pagi itu pelan-pelan naik, kita tahu: jalan menjadi terang, bukan karena kita lebih hebat, melainkan karena Allah berkenan menyingkap sedikit rahasia-Nya.
Tinggalkan Balasan